Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy'ari.

Di posting oleh Jons Lawe pada 03:44 PM, 16-Apr-12

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh Bismillahirrahmannirrahim Hai Kawan Blogger, dengan kesempatan baik ini semoga kita masih di berikan kesehatan oleh ALLAH SWT, amin, Dengan adanya pembuatan Blog ini, saya ingin memberikan suatu Biografi Kiyai Hasyim Ashari (pengasas NU). Mohammad Hasyim Ashari atau Kyai Haji Mohammad Hasyim Ashari (Asy'arie juga sering dieja sebagai Asy'ari atau Asy'arie), Beliau lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875, Beliau sangat terkenal di kalangan Masyarakat Islam karna Beliau merupakan pengasas NU (Nahdlatul Ulama), organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Dilahirkan di Jombang, KH Hasyim Asyari adalah anak lelaki ketiga antara 11 orang adik-beradik. Ayahnya yang bernama Kyai Asyari, merupakan pemimpin Sekolah Agama Beasrama Keras yang terletak di sebelah selatan Jombang, manakala ibunya bernama Halimah. Beliau merupakan keturunan kedelapan setelah ibu kepada Joko Tingkir (Sultan Pajang). Yang berikut ialah salasilah lengkapnya: 1. Ainul Yaqin (Sunan Giri) 2. Abdurrohman (Jaka Tingkir) 3. Abdul Halim (Pangeran Benawa) 4. Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda) 5. Abdul Halim 6. Abdul Wahid 7. Abu Sarwan 8. KH. Asy'ari (Jombang) 9. KH. Hasyim Asy'ari (Jombang). Asal-usul dan keturunan K.H M.Hasyim Asy’ari tidak dapat dipisahkan dari riwayat kerajaan Majapahit dan kerajaan Islam Demak. Silsilah keturunannya, sebagaimana diterangkan oleh K.H. A.Wahab Hasbullah menunjukkan bahawa leluhurnya yang tertinggi ialah neneknya yang kedua iaitu Brawijaya VI. Ada yang mengatakan bahawa Brawijaya VI adalah Kartawijaya atau Damarwulan dari perkawinannya dengan Puteri Champa lahirlah Lembu Peteng (Brawijaya VII). Selain itu, sejak kecil Kiai Hasyim juga sudah menunjukkan tanda-tanda kecerdasannya. Pada usia 13 tahun, dia sudah bisa membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar (senior) darinya. Semasa hidupnya, Beliau mendapatkan pendidikan dari ayahnya sendiri, terutama pendidikan di bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an dan literatur agama lainnya. Setelah itu, Beliau menjelajah menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren, terutama di Jawa, yang meliputi Shone, Siwilan Buduran, Langitan Tuban, Demangan Bangkalan, dan Sidoarjo, ternyata K. H. Hasyim Asy’ari merasa terkesan untuk terus melanjutkan studinya. Beliau berguru kepada K. H. Ya’kub yang merupaka kyai di pesantren tersebut. Kyai Ya’kub lambat laun merasakan kebaikan dan ketulusan Hasyim Asy’ari dalam perilaku kesehariannya, sehingga kemudian beliau menjodohkannya dengan putrinya, Khadijah. Tepat pada usia 21 tahun, tahun 1892, Hasyim Asy’ari melangsungkan pernikahan dengan putri K. H. Ya’kub tersebut. Setelah nikah, K. H. Hasyim Asy’ari bersama istrinya segera melakukan ibadah haji. Sekembalinya dari tanah suci, mertua K. H. Hasyim Asy’ari menganjurkannya menuntut ilmu di Mekkah. Dimungkinkan, hal ini didorong oleh tradisi pada saat itu bahwa seorang ulama belumlah dikatakan cukup ilmunya jika belum mengaji di Mekkah selama bertahun-tahun. Di tempat itu, K. H. Hasyim Asy’ari mempelajari berbagai macam disiplin ilmu, diantaranya adalah ilmu fiqh Syafi’iyah dan ilmu Hadits, terutama literatur Shahih Bukhari dan Muslim. Semangatnya dalam menuntut ilmu membawa dirinya sampai ke tanah suci, Makkah. Selama di Makkah, ia berguru kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Syeikh Syuaib bin Abdurrahman, Syekh Mahfudzh at- Tirmasi (Tremas, Pacitan), Syekh Khatib al- Minangkabawi, Syekh Ahmad Amin al- Athar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said al-Yamani, Syekh Rahmatullah, Syekh Bafaddhal, dan Syekh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi Sejumlah Sayyid/Habib(keturunan Rosul SAW) juga menjadi gurunya, antara lain Sayyid Abbas al-Maliki, Sayyid Sulthan Hasyim al- Daghistani, Sayyid Abdullah al- Zawawi, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas, Sayyid Alwi al-Segaf, Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi, dan Sayyid Husain al-Habsyi (yang saat itu menjadi mufti di Makkah). Di antara mereka, ada tiga orang yang sangat memengaruhi wawasan keilmuan Kiai Hasyim, yaitu Sayyid Alwi bin Ahmad al- Segaf, Sayyid Husain al-Habsyi, dan Syekh Mahfudzh al- Tirmasi. Kecintaan Kiai Hasyim pada dunia pendidikan terlihat dari pesan yang selalu disampaikan kepada setiap santri yang telah selesai belajar di Tebuireng. ”Pulanglah ke kampungmu. Mengajarlah di sana, minimal mengajar ngaji,” demikian isi pesan Kiai Hasyim kepada para santrinya”. Pada saat di Mekkah ,Kiai Hasyim dipercaya untuk mengajar di Masjidil Haram bersama tujuh ulama Indonesia lainnya, seperti Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Ahmad Khatib al- Minangkabawi. Selama di Makkah, beliau mempunyai banyak murid yang berasal dari berbagai negara. Di antaranya ialah Syekh Sa’dullah al- Maimani (mufti di Bombay, India), Syekh Umar Hamdan (ahli hadis di Makkah), Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria), KH Abdul Wahab Hasbullah (Tambakberas, Jombang), KH R Asnawi (Kudus), KH Dahlan (Kudus), KH Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang), dan KH Shaleh (Tayu). Dan bersama KH Wahab Hasbullah (Tambakberas), KH Bisri Syansuri (Denanyar), serta KH Bisri Musthofa (Rembang), KH Hasyim Asy’ari mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), sebagai wujud perjuangan para ulama dalam membimbing umat sekaligus melawan penjajah Belanda. Beberapa saat setelah merdeka, Kota Surabaya yang ingin direbut kembali oleh penjajah, mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia. Bersama Bung Tomo, KH Hasyim Asy’ari menyerukan perang jihad melawan Belanda. Dan selanjutnya, melalui organisasi ini pula, nama KH Hasyim Asy’ari berkibar. Ketokohan dan keilmuan yang dimilikinya menempatkannya sebagai ulama teratas di Indonesia. Tak heran pula bila kemudian beliau mendapat julukan sebagai Hadratus Syekh (penghulu para syekh/ulama). Peninggalan Karyanya selama Hidupnya Karya-karya Kiyai Hasyim banyak yang merupakan jawaban atas berbagai problematika masyarakat. Misalnya, ketika umat Islam banyak yang belum faham persoalan tauhid atau aqidah, Kiyai Hasyim lalu menyusun kitab tentang aqidah, diantaranya Al-Qalaid fi Bayani ma Yajib min al-Aqaid, Ar-Risalah al-Tauhidiyah, Risalah Ahli Sunnah Wa al-Jama’ah, Al-Risalah fi al-Tasawwuf, dan lain sebagainya. Kiai Hasyim juga sering menjadi kolumnis di majalah-majalah, seperti Majalah Nahdhatul Ulama’, Panji Masyarakat, dan Swara Nahdhotoel Oelama’. Biasanya tulisan Kiyai Hasyim berisi jawaban-jawaban atas masalah- masalah fiqhiyyah yang ditanyakan banyak orang, seperti hukum memakai dasi, hukum mengajari tulisan kepada kaum wanita, hukum rokok, dll. Selain membahas tentang masail fiqhiyah, Kiai Hasyim juga mengeluarkan fatwa dan nasehat kepada kaum muslimin, seperti al-Mawaidz, doa-doa untuk kalangan Nahdhiyyin, keutamaan bercocok tanam, anjuran menegakkan keadilan, dan lain- lain. Sebagai seorang intelektual, K. H. Hasyim Asy’ari telah menyumbangkan banyak hal yang berharga bagi pengembangan peradaban, diantaranya adalah sejumlah literatur yang berhasil ditulisnya. Karya-karya tulis K. H. Hasyim Asy’ari yang terkenal adalah sebagai berikut:Adab Al-‘Alim wa Al- Muta’allimin, Ziyadat Ta’liqat, Al-Tanbihat Al-Wajibat Liman, Al-Risalat Al-Jami’at, An-Nur Al-Mubin fi Mahabbah Sayyid Al- Mursalin, Hasyiyah ‘Ala Fath Al- Rahman bi Syarh Risalat Al-Wali Ruslan li Syekh Al- Isam Zakariya Al-Anshari, Al-Durr Al-Muntatsirah fi Al-Masail Al-Tis’i Asyrat, Al-Tibyan Al-Nahy’an Muqathi’ah Al-Ikhwan, Al-Risalat Al-Tauhidiyah, Al- Qalaid fi Bayan ma Yajib min Al-‘Aqaid. Kitab ada Al-‘Alim wa Al- Muta’allimin merupakan kitab yang berisi tentang konsep pendidikan. Kitab ini selesai disusun hari Ahad pada tanggal 22 Jumadi Al-Tsani tahun 1343. K. H. Hasyim Asy’ari menulis kitab ini didasari oleh kesadaran akan perlunya literatur yang membahas tentang etika (adab) dalam mencari ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan pekerjaan agama yang sangat luhur sehingga orang yang mencarinya harus memperlihatkan etika-etika yang luhur pula KH Hasyim Asy’ari menganjurkan kepada para kiyai dan guru-guru agama agar memiliki perhatian serius kepada masalah ekonomi untuk kemaslahatan; “kenapa tidak kalian dirikan saja satu badan usaha, yang setiap wilayah ada satu badan usaha yang mandiri.” Demikian pernyataan KH Hasyim Asy’ari ketika mendeklarasikan berdirinya Nahdlah at- Tujjar. Berangkat dari kesadaran itulah Nahdlah at-Tujjar didirikan, dengan satu badan usaha yang ketika itu disebut Syirkah al-Inan, yang kemudian hari ketika NU berdiri wadah ekonomi tersebut berganti nama dengan Syirkah al-Mu’awanah. Ketika organisasi sosial keagamaan masyumi dijadikan partai politik pada 1945, Kiyai Hasyim terpilih sebagai ketua umum. Setahun kemudian, 7 September 1947 (1367 H), K. H. Muhammad Hasyim Asy’ari, yang bergelar Hadrat Asy-Syaikh wafat. Berdasarkan keputusan Presiden No. 29/1964, ia diakui sebagai seorang pahlawan kemerdekaan nasional, suatu bukti bahwa beliau bukan saja tokoh utama agama, tetapi juga sebagai tokoh nasional.Pada tahun 1930 dalam muktamar NU ke-3 kiyai Hasyim selaku Rais Akbar menyampaikan pokok-pokok pikiran mengenai organisasi NU. Pokok- pokok pikiran inilah yang kemudian dikenal sebagai Qanun Asasi Jamiah NU (undang-undang dasar jamiah NU). Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabbarrakatuh Sumber : Wikkipedia www.nu.or.id

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar